A Walk To Remember
“Kami, dua orang yang saling memperjuangkan”
“Hay calon ibu yang baik, selamat tidur. Semoga mimpimu aku. :)”

(via jalansaja)

Selalu :D

(via its-resty-prabu-hasta-world)

Em … gitu ya. Nanti malam kalau ketemu lagi di alam mimpi. Tolong ingatkan dia untuk lebih serius memperjuangkan impiannya yak.

(via jalansaja)
⛅

“bukan mencari yang hebat, tapi pilih yg bisa membuat kita lebih hebat, dan bersama menjadi hebat. Kalau mencari yang hebat, ada atau tanpa kitapun dia sudah hebat—jadi apa gunanya kita disisinya?”
fitriadytaa
“Terimakasih, darimu aku belajar bahwa bukan untuk menangkap apa yang kita kejar, tapi menangkap apa yang mengejar kita, karena apa yang kita kejar pastilah akan mengejar hal lain juga.”
ujagabulanbersinaruntukmu
“Mungkin benar, aku belum siap dalam fase fase ketika tak menemukan satu haripun untuk berlibur *sick*”
—*Pekerja dan pelajar*
academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.
Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia
Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.
“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi”
“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”
“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”
Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.
Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.
Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.
Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.
Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.
Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.
Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.
Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.
Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia. 
Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.
Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.
 
Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.
Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.
Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

academicus:

Selama sepuluh tahun, beliau telah banyak mengubah Indonesia.

Menyimak Pidato Kenegaraannya di DPR yang terakhir seperti melihatnya melambaikan tangan, mengucapkan salam perpisahan. Mengingatkan tentang perjalanan panjang bangsa kita. Bahwa kita sebagai bangsa telah jauh berjalan bersama, bergandengan tangan, berjuang menjadi bangsa yang lebih sejahtera.

"Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, yang mencakup lebih dari 200 ribu sekolah, 3 juta guru, dan 50 juta siswa.

Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar di dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari Purchasing Power Parity.

Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara, dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah tercepat di Asia

Dari bangsa yang jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, kita telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ke-3 terbesar di dunia”

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa semua stabilitas dan perkembangan ekonomi negara kita adalah “kejadian alami”, yang terjadi karena hasil jerih payah rakyat sendiri.

“Ya itu kan memang karena Indonesia lagi punya bonus demografi

“Ini memang karena kelas ekonomi menengah kita sedang kuat”

“Ini karena rakyat memperjuangkan perubahannya sendiri, bukan karena pemerintahan SBY”

Buat saya, pendapat seperti ini adalah pendapat pecundang. Mereka terlalu sombong untuk membuka mata dan menerima fakta, bahwa kita bisa mendapatkan semuanya karena kita berjalan bersama, dan kita berjalan di bawah pemerintahan SBY.

Tidak adil jika kita menyalahkan SBY atas semua kegagalan pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu, tetapi tidak memberikan apresiasi sama sekali ketika di bawah kabinet yang sama, terdapat begitu banyak prestasi.

Dan sungguh tidak adil jika kita membandingkan Indonesia dengan Amerika, Eropa, Korea, atau negara lainnya. Indonesia terlalu luas, terlalu besar, dan terlalu beragam untuk disamakan dengan negara manapun di dunia. Menjadi pemimpin sebuah negara dengan ribuan pulau, ribuan suku, ribuan bahasa, dan milyaran pemikiran yang tersebar dalam jutaan kepala adalah sebuah beban yang teramat besar, terlalu besar.

"Menjadi Presiden dalam lanskap politik dimana semua pemimpin mempunyai mandat sendiri, dalam demokrasi 240 juta, adalah suatu proses belajar yang tidak akan pernah ada habisnya"

Dan dia tetap memilih berani berdiri di sana, atas memimpin kita bertumbuh bersama.

"Setelah hampir 7 dekade merdeka, Indonesia di abad ke-21 terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis"

Saya mungkin bukan ahli politik, saya bisa jadi tidak mengerti sosial-ekonomi, dan saya barangkali tidak tahu banyak soal tata negara.

Tapi saya tahu pasti menjadi presiden bukanlah perkara mudah.

Saya sadar betul memimpin Indonesia bukan pekerjaan sederhana.

Saya semakin memahami bahwa presiden tak sepantasnya dengan mudah dicaci-maki, dibilang lamban, dicap tolol, diteriaki boneka asing, dan dijadikan lelucon.

Jika memang ia mengkhianati kita sebagai bangsa, saya tidak pasti tahu akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Jika memang SBY menjual negara kepada asing atas niatan berkhianat, saya pun tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri akan hal itu, sebagaimana Anda pun demikian. Yang tahu pasti akan semua pengkhianatan itu, hanya dia dan Tuhan.

Tapi saya tahu pasti Pak SBY kurang tidur karena memikirkan Indonesia. Terlihat jelas lelah dan semua beban itu di kantung matanya.

Saya percaya Pak SBY mengusahakan perdamaian di negeri ini dengan seksama, agar bangsa kita yang begitu beragam agamanya, begitu berwarna keyakinannya, tidak saling mengadu dan tetap bisa bersatu.

"Dalam sepuluh tahun terakhir, saya telah mencoba mendedikasikan seluruh jiwa dan raga untuk Indonesia. Terlepas dari berbagai cobaan, krisis dan tantangan yang saya alami, tidak pernah ada satu menit pun saya merasa pesimis terhadap masa depan Indonesia. Dan tidak pernah satu menit pun saya merasa tergoda untuk melanggar sumpah jabatan dan amanah rakyat saya sebagai Presiden"

Dan dengan semua perjalanan panjang itu, Pak SBY dengan rendah hati meminta maaf secara terbuka.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya menjadi Presiden Republik Indonesia. Saya adalah anak orang biasa, dan anak biasa dari Pacitan, yang kemudian menjadi tentara, menteri, dan kemudian dipilih sejarah untuk memimpin bangsa Indonesia.

Tentunya dalam sepuluh tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Meskipun saya ingin selalu berbuat yang terbaik, tetaplah saya manusia biasa”

Memikirkan ini semua, saya jadi membayangkan suatu saat nanti ketika saya punya kesempatan bertemu dengan beliau, apa yang akan saya katakan.

Saya teringat berapa banyak saya ikut mencaci beliau dan menjadikannya bahan lelucon, dan betapa sedikitnya saya mengapresiasi dan berusaha benar-benar memahami beban beratnya sebagai pemimpin bangsa Indonesia.

 

Saya mungkin tidak akan berbicara banyak.

Saya akan menjabat tangannya erat, menatap matanya lekat, dan memeluknya dengan hangat.

Saya hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih.

“Demokrasi tanpa keadilan adalah sesat,
Keadilan tanpa kesejahteraan adalah semu,
Kesejahteraan tanpa demokrasi adalah timpang.”
Susilo Bambang Yudhoyono (Pidato kenegaraan Presiden RI, pada tanggal 15 Agustus 2014)
catatanpemimpi:

“Hidup hanya sekali dan hiduplah yang bermanfaat..”, mungkin ungkapan itu bisa menjadi sebuah renungan untuk kita semua, apalah artinya kehidupan, jika kita hanya memikirkan kepentingan pribadi semata, tanpa pernah peduli atau sekedar berbagi dengan yang lebih membutuhkan.
Mereka memang bukan saudara kandung, tapi mereka adalah bagian dari hidup kita, dan apalah artinya sebuah kekayaan yang melimpah dengan penuh kemewahan dan makanan yang lezat, jika  membiarkan tetangga kita menangis karena kelaparan.
Sesuap nasi, begitu berarti bagi mereka yang membutuhkan, bekerja siang dan malam hanya untuk mengisi perut agar tetap bisa bertahan untuk hidup, walau harus memungut sampah, menyapu jalan, dan lain sebagianya, mereka bilang “Asal halal, akan kami lakukan, selama itu bisa mendatangkan rezeki dan bisa bertahan hidup”.
Yuk berbagi dengan Komunitas Tangan Kedua, untuk mereka yang membutuhkan. Anda ingin ikut berpartisipasi? Join us.. :)

catatanpemimpi:

“Hidup hanya sekali dan hiduplah yang bermanfaat..”, mungkin ungkapan itu bisa menjadi sebuah renungan untuk kita semua, apalah artinya kehidupan, jika kita hanya memikirkan kepentingan pribadi semata, tanpa pernah peduli atau sekedar berbagi dengan yang lebih membutuhkan.

Mereka memang bukan saudara kandung, tapi mereka adalah bagian dari hidup kita, dan apalah artinya sebuah kekayaan yang melimpah dengan penuh kemewahan dan makanan yang lezat, jika  membiarkan tetangga kita menangis karena kelaparan.

Sesuap nasi, begitu berarti bagi mereka yang membutuhkan, bekerja siang dan malam hanya untuk mengisi perut agar tetap bisa bertahan untuk hidup, walau harus memungut sampah, menyapu jalan, dan lain sebagianya, mereka bilang “Asal halal, akan kami lakukan, selama itu bisa mendatangkan rezeki dan bisa bertahan hidup”.

Yuk berbagi dengan Komunitas Tangan Kedua, untuk mereka yang membutuhkan. Anda ingin ikut berpartisipasi? Join us.. :)

Obrolan sama bebek

Yg seagama aja susah ngeklop-in apalagi yg beda agama? Kalo cuma mau seneng-seneng sih silahkan. Kalo nikah? NO! Agama kita ngelarang. Cari yg seagama lah, yg baik agamanya, gak perlu ngoyo toh kalo kamu baik dapetnya baik juga kan. Minimal islam dulu lah, nanti bisa bareng-bareng memperbaiki diri, yes?

“Cara terbaik untuk mengetahui isi hati seorang perempuan adalah cari tau lagu yang sering ia dengar.”
Good morning darlings!  It’s september!  It was really early when my alarm went off this morning…  My classes don’t start today but I have a course for my internship, I have to attend.
But it will be fun:)
September. A new month, and for me and I think for a lot of you, a lot of new things are going to happen! New school, new people to meet, maybe a new job and a new city to live in! All really exciting but also a little bit scary. But, please, enjoy every moment! Have fun! And be the best version of you, that you can be! Chase your dreams!
Have a good day:) love you♥

Good morning darlings!
It’s september!
It was really early when my alarm went off this morning…
My classes don’t start today but I have a course for my internship, I have to attend.

But it will be fun:)

September. A new month, and for me and I think for a lot of you, a lot of new things are going to happen! New school, new people to meet, maybe a new job and a new city to live in!
All really exciting but also a little bit scary.
But, please, enjoy every moment! Have fun! And be the best version of you, that you can be!
Chase your dreams!

Have a good day:) love you♥

  • A: aaaaaaa tapi kan aku gak punya lesung pipit ._.
  • B: tapi adalah dikit walaupun gak dalem kan? tidur sana mbak bro, supaya besok kamu bisa fresh mengeluarkan celotehan sajak-sajakmu
“Celoteh penyair wanita ini menemani heningnya malamku, indah sekali, seperti lesung pipitnya yang selalu diagung-agungkan kaum lelaki”
—obrolan semalam
ahmadkrishar Opo ya mas? hahahaha 

ahmadkrishar Opo ya mas? hahahaha 

Fly
Ventisette Theme
Design by Athenability
Powered by Tumblr