A Walk To Remember
“Hargai kekhawatiran orang-orang yang sayang padamu, dengan memberi kabar pada mereka (bahkan akan lebih baik, bila tanpa diminta). Jangan malah mengomel ketika ditanya. Bersyukurlah, karena masih ada yang begitu peduli.”

Tia Setiawati Priatna

semoga suatu saat kamu membacanya :)

“Pernikahan itu membawa kita pada ketentraman hati.”
—Ustadz; saat pengajian malam hari (3 Mei 2013) di rumah saya
“Aku belajar sabar darimu, belajar ikhlas karnamu, dan dari sini aku mendoakanmu”
—gadis pembawa hujan

How To complete the QURAN in Ramadan:

The Qur’an has 600 pages approx.. If you divide it on 30 days, that’s 20 pages a day. You see, that’s difficult to do right? But, if you divide it on the 5 prayers a day, it gets easier:

*If you read 4 pages after every salah in ramadan, then you’ve completed the Qur’an.

*If you want to complete the Qur’an twice, you read 4 pages before and after every salah.

Imagine if you forward this message, how many people will benefit and complete the Qur’an

Atas Nama Hati, Maafkan Aku
  • Aku: Rindu ini untuk siapa?
  • Kepala: Itu bukan bagianku untuk menjawab.
  • Aku: Baiklah. Lalu, cinta ini untuk siapa?
  • Kepala: Itu juga bukan bagianku untuk menjawab.
  • Aku: Ah. Mengapa?
  • Kepala: Karena urusanku adalah urusan pemikiran. Urusan logika. Sementara urusan perasaan adalah urusan hati. Tanyalah pada si bodoh itu.
  • Aku: Bodoh?
  • Kepala: Benar. Dia memang bodoh, bukan? Selain bodoh, dia juga seorang pembangkang.
  • Aku: Bagaimana bisa?
  • Kepala: Begini. Berapa kali dia sudah kunasehati agar berhenti bekerja ketika kau dilukai, tapi dia terus saja melakukannya? Berapa kali?
  • Aku: Berkali-kali! Tapi bukankah itu tugasnya?
  • Kepala: Ah, sama saja kau dengan dia. Susah diberitahu yang benar!
  • Aku: Aku tahu. Tapi aku tak berdaya. Lalu, mengapa kau sebut dia bodoh?
  • Kepala: Karena dia mempermalukan dirinya sendiri. Bukan hanya itu, dia juga membuatmu dan membuatku terlihat sama bodohnya dengan dia.
  • Aku: Atas nama hati, maafkan aku.
  • Kepala: Buat apa kau meminta maaf atas namanya? Lagipula, ini bukan salahmu!
  • Aku: Jadi aku harus bagaimana?
  • Kepala: Berhenti menjadi pencinta yang bodoh.
  • Aku: Tapi kata orang, kalau tidak bodoh itu bukan cinta?
  • Kepala: Itu kan cintanya orang-orang bodoh...
  • Aku: Atau kau yang terlalu pandai untuk kami berdua - aku dan hati?
  • Kepala: Aku bukannya pandai, tapi aku mencintai kalian. Aku ada di saat kalian butuh juru selamat.
  • Aku: Bagaimana jika kami sendiri yang tidak ingin diselamatkan?
  • Kepala: Nah! Apa kataku tadi? Kalian berdua memang bodoh!
  • Aku: Kami tidak bodoh! Kami hanya tidak ingin diselamatkan!
  • Kepala: Kalau begitu, jangan hiraukan aku lagi. Berhenti bertanya dan berbicara denganku.
  • Aku: Kau marah?
  • Kepala: Tidak, aku bukannya marah. Aku putus asa.
  • Aku: Jadi, apakah aku harus membunuh hati?
  • Kepala: JANGAN! Karena tanpanya, kau tak memerlukanku...
  • Aku: Hubungan yang sulit...
  • Kepala: Aku tahu, aku tahu.
  • Aku: Bagaimanapun, terima kasih, kepala. Karena kau tidak pernah bosan untuk menegur kami.
  • Kepala: Terima kasih, aku. Karena ada kalanya kau masih ingin mendengarkanku.
  • Aku: Kita teman kan?
  • Kepala: Bukan. Kita sahabat. Dan aku sahabatmu yang paling jujur.
  • Aku: Ah.
  • Kepala: Aku ada bahkan ketika kau merasa terganggu dengan kehadiranku.
  • Aku: Ah.
  • Kepala: Maafkan aku.
  • Aku: Tak ada yang perlu dimaafkan.
  • Kepala: Ada.
  • Aku: Apa?
  • Kepala: Kerasionalitasanku.
  • Aku: Itu hal yang buruk?
  • Kepala: Menurutmu sendiri bagaimana?
“Bila kini kau lihat aku yang kian membaik. Tak lain ialah karena hati baikmu yang selalu memperbaiki.”
Fly
Ventisette Theme
Design by Athenability
Powered by Tumblr